Senin, 26 Mei 2008

Soleh Individu dan Sosial

sempurna tanpa kesalahan, mereka adakalanya berbuat salah yang disebabkan sifat kemanusiaanya yang selalu lupa dan salah. Namun, mereka tidak terlena dan merasa terlanjur serta menunda-nunda untuk bertaubat kepada Allah SWT.

Rasulullah sendiri yang ma’shum pernah berbuat kelasalah diantaranya adalah dengan turunnya surat Abasa. Hal ini disebabkan oleh sifat kemanusiaanya yang menginginkan sesuatu yang lebih dari yang biasa dan ini adalah fitrah. Kisahnya seperti ini:

Dalam sebuah keterangan dijelaskan bahwa firman Allah yaitu surat ke-80 (‘Abasa), turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang yang buta datang kepada Rasulullah SAW., kemudian ia berkata kepada Rasulullah: Beri aku petunjuk, Ya Rasulullah” (sedang pada waktu itu Rasulullah sedang mengahadapi para pembesar Quraisy. Beliau berpaling dari Ibnu Maktum dan tetap menghadapi pembesar-pembesar Quraisy). Lantas Ibnu Maktum bertanya: “Apakah yang saya katakan ini menggangu?”, “tidak” jawab Rasulullah. Setelah itu turunlah surat ‘Abasa ayat 1 -10[1].

Tidak salam memang apabila seorang yang dalam pandangan umum sebagai orang shaleh itu berbuat suatu kesalahan dan ini dapat ditolelir karena pada dasarnya manusia itu merupakan makhluk yang dha’if, yang adakalanya berbuat salah dan lupa.

A. Keadaan hati keshalehan individu

Pada dasarnya banyak sekali keadaan hati seorang yang menapaki sebuah perjuangan untuk senantiasa berbuat ketaatan kepada Allah SWT., sebagai Sang Pencipta, Pendidik dan Pemelihara yang telah mengadakannya dari ketiadaanya menjadi ada serta mengantarkan dari kebodohan kepada kecerdasan sebagai rasa syukur yang amat dalam. Meskipun sadar diri tidak akan pernah terbalas kebaikan berupa kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita.

Kemudian bertolak dari keshalehan individu, pada hakikatnya keadaan hati seseorang yang ingin sekali berbuat ketaatan kepada Allah dan hubungannya vertikal kepada Allah dengan cara menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya dan hal itu sangat ia jaga sebagai bukti ketaatannya dan syukurnya kepada Allah SWT.

1. Zuhud

Zuhud [2] artinya sikap menjauhi kemewahan dan gemerlapnya dunia , yang bersifat materi dan dapat melupakan kehidupan dan kebahagiaan yang abadi, kelak di akhirat.

Orang yang memiliki sifat zuhud, disebut sebagai Zahid - Zahid, orang yang berzuhud, yang meninggalkan kesenangan duniawi.- yang selalu berupaya menjaga diri agar tidak terkena tipu daya kemewahan dunia, yang dapat membuatnya lupadiri dan melupakan Allah. Namun demikian, bersikap zuhud tidak berarti bersikap anti terhadap kegiatan duniawi dan kebutuhan manusiawi, seperti makan, minum, berpakaian, memiliki rumah, kendaraan, perhiasan dan sebagainya. Justeru semuanya itu harus dimilikinya, dan di pegunakannya untuk beribadah kepada Allah SWT., baik ibadah mahdhah –langsung- maupun ghair mahdhah –tidak langsung- sedangkan ia hanya menikmatinya sedikit saja, sesuai dengan sebagai manusia biasa.

Bersikap zuhud tidak berarti harus memfakirkan diri, atau menjerumuskan diri kejurang kemiskinan, menghindari keramaian orang, tidak bergaul dengan masyarakat dan sebagainya, melainkan justeru sebaliknya. Sikap zuhud tidak menghalangi seseorang untuk menjadi kaya raya, berkecukupan dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Namun kekayaannya tersebut tidak membuatnya lupa diri dan melupakan Allah SWT., namun justeru semakin membuatnya dekat dengan Allah sebagai khaliqnya.

Firman Allah SWT:

Artinya:“Dan tiadalah kehidupan ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya”. (QS. Al-An-‘Am: 32)

Ayat di atas menegaskan bahwa kehidupandunia tak lain hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Bersikap hati-hatilah terhadap kemewahan dunia, tidak berarti kita menjauhi dan meninggalkan kebutuhan duniawi kita. Sebaliknya kita boleh meraih dan mendapatkan kekayaan dunia tersebut sebanyak-banyaknya, namun hendaknya kita tidak bergantung kepadanya, yang akhirnya memnuat akita lupa diri dan jauh dari jalan Allah SWT. Harta yang dimiliki hendaknya membuat pemiliknya semakin dekat kepada Allah SWT., dan senantiasa beribadah dengan hartanya tersebut.

Sikap demikian itulah, keteguhan hati dalam menjaga ketaqwaan kepada Allah SWT., meskipun hidupnya bergelimang harta. Bagi seorang zahid, kebahagiaan akhirat lebih sejati daripada kebahagiaan dunia yang hanya bersifat semu.

2. Tawadhu

Allah SWT., berfirman[3]:

Artinya:“Dan hamba-hamba Tuhan yang Mahapengasih, (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka ucapkan kata-kata yang baik”. (QS. Al-Furqan: 63)

Menurut ayat di atas, sifat pertama yang Allah SWT., sebutkan bagi hamba-hamba yang khusus, adalah sikap lembut, tenang, dan rendah hati ketika mereka berjalan. Sebab, cara berjalan bisa jadi merupakan wujud bathiniah seseoarng. Orang yang tawadhu atau angkuh,dapat dilihat dari cara berjalannya, duduknya dan cara berdiri dengan orang lain. Karena itu, ciri orang-orang taqwa menurut Imam Ali as, salah satunya adalah sifat tawadhu mereka beliau berkata, “Cara berjalan mereka adalah tawadhu”(al-Bihar, juz 14, hadits 50).

Untuk mengetahui kadar tawadhu dan ukuran rendah hati bagi seseorang, perhatikanlah beberapa tanda dan batas yang diterangkan dalam hadits. Imam Ridha as pernah ditanya, “sebatas apa tawadhu itu ?” Imam menjawab, “kamu berikan sesuatu darimu kepada orang lain, seperti apa yang kamu inginkan pemberian mereka padamu.” (al-Bihar, juz 71, bab 51, hadits ke-20).

Imam Shadiq as pernah berkata, “tawadhu adalah kamu rela duduk di setiap tempat, meskipun ia lebih rendah kedudukanmu, mengucapkan salam kepada yang kamu jumpai dan menghidari perdebatan, meskipun kebenaran di pihakmu dan (ketahuilah bahwa) tawadhu adalah pangkal kebaikan.” (al-Bihar, juz 14, bab 17, hadits ke-20).

Dihadits yang lain, Imam Shadiq menambahkan, “Manusia tidak suka dipuji karena ketaqwaannya.” (al-Bihar, juz 2, bab 17, hadits ke-20).

Manusia harus belajar dan berusaha merendahkan diri setiap waktu dan kesempatan:

“Wahai manusia….! Bersikap rendah diri dan rendah hatilah terhadap sesama manusia. Sebab barang siapa menjaga lidahnya dari sifat mengumpat, Allah akan menyembunyikan aibnya, barang siapa meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan permohonannya.”

“Barang siapa menghias diri dengan pakaian yang baik dalam bermunajat kepada Allah SWT., karena kerendahan hati (tawadhu) kepada Allah, maka Allah akan dibuka pintu Firdaus dan syurga Firdaus itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang giat dalam beribadah dan optimis dalam hidupnya. Segala rasa hormat Allah kepada segenap makhluknya yang dengan patuh dan rendah hati dalam memuja dan menghadap Allah.”

Orang demikian itu, bagaikan pohon yang penuh dengan buah yang sedang menggelantung, yang akan menarik perhatian setiap insan yang memandangnya.[4]

3. Tawakal kepada Allah SWT.,

Tawakal[5] adalah berserah diri kepada Allah SWT., setelah semua proses pekerjaan atau amalan lain sudah dilaksanakan secara optimal. Ketika suatu usaha atau pekerjaan belum dilaksanakan secara maksimal, kemudian orang tersebut berserah diri kepada Allah SWT., maka orang itu belum bisa disebut bertawakal, sebab tahapan-tahapan yang seharusnya dilalui oleh orang itu belum ditempuh secara utuh.

Tawakal[6] merupakan salah satu sarana terkuat di antara sarana-sarana yang bisa mendatangkan kebaikan serta menghindari kerusakan, berlawanan dengan pendapat yang mengatakan: bahwa tawakal hanyalah sekedar ibadah yang mendatangkan pahala bagi seorang hamba yang melakukannya, seperti orang yang melempar jumrah (ketika haji), juga berlawanan dengan orang yang berpendapat tawakal berarti men-tiada-kan prinsip sebab musabab dalam penciptaan serta urusan, sebagaimana pendapat yang dilontarkan oleh golongan "Mutakallimin" seperti Al-Asy-ari dan lainnya, dan juga seperti pendapat yang dilontarkan oleh para ahli Fiqh dan golongan sufi, (Risalah Fi Tahqiqi At-Tawakkul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal. 87),

Ibnul Qayyim berkata : Tawakal adalah sebab yang paling utama yang bisa mempertahankan seorang hamba ketika ia tak memiliki kekuatan dari serangan makhluk Allah lainnya yang menindas serta memusuhinya, tawakal adalah sarana yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan Allah pelindungnya atau yang memberinya kecukupan, maka barang siapa yang menjadikan Allah pelindungnya serta yang memberinya kecukupan maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya. (Bada'i Al-Fawa'id 2/268)

Allah SWT., berfirman:

Artinya:“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Ketika kita sudah berupaya maksimal di dalam melaksanakan suatu usaha atau pekerjaan, kemudian berserah diri kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya, niscaya Allah SWT., akan menolong kita, hal ini Allah jelaskan dalam firman-Nya:

Artinya:“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu tidak memberi pertolongan, maka siapakan gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah karena Allah saja orang-orang mu’min itu bertawakal.” (QS. Ali Imran: 160)[7]

Keutamaan bertawakal sanagatlah banyak sebagaimana telah dikemukaan sebelumnya, selain daripada itu ada juga beberapa ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menjelaskan tentang keutamaan dalam bertawakal diantaranya adalah:

Artinya: dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman (QS. Al-Maidah[5]: 23)

Artinya: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya (QS. Ath-Thalaq[65]:3)

Artinya: sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya (QS. Ali Imran [3]: 159).

Begitu Allah sangat menyukai orang-orang yang bertawakal, hingga Allah menyebutkannya beberapa kali dalam Al-Qur’an. Orang yang yang shaleh akan senantiasa bertawakal kepada Allah SWT., atas segala usahanya hingga ia tidak kecewa ketika mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkan dan tidak telalu senang ketika mendapatkan apa yang diinginkan dan menjadikannya bertambah syukurnya.

Kemudian, Rasulullah SAW., sendiri sering menerangkan akan keutamaan orang yang bertawakal kepada Allah dalam beberapa haditsnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud Rasulullah SAW., bersabda:

Aku melihat ummat-ummat di suatu tempat, maka kulihat ummatku telah memenuhi lembah dan gunung, maka membuat kagum banyaknya jumlah dan bentuk mereka. Maka ditanyakan kepadaku, ‘apakah engkau senang ?’ aku jawab, ‘ya, aku senang’. Bersama mereka tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab.

Lalu beliau ditanya, “siapa mereka?” beliau menjawab, “mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan besi panas untuk penyembuhan, tidak meramal, tidak meminta dijampi-jampi, dan hanya kepada tuhannya mereka bertawakal. Lantas Ukasyah berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah SWT., agar menjadikan aku termasuk diantara mereka”. Maka Rasulullah SAW., berdo’a: “Ya Allah jadikan ia termasuk diantara mereka”. Dan ada seorang lagi yang berdiri dan berkata “mohonkanlah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk diantara mereka”. Maka Rasulullah SAW., menjawab engkau telah didahului oleh Ukasyah”.

Rasulullah SAW., bersabda: “Kalau kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka Dia akan memberikan rezeki sebagaimana ia memberikan rezeki kepada burung yang pergi pada waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali dalam pada waktu sore dalam keadaan kenyang”.

Ada seorang sahabat yang bernama Al-Khawwash r.a. dan membaca ayat, “Dan bertawakal-lah kepada Allah yang hidup (kekal), yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya (QS. Al-Furqan [25]: 58). Maka ia berkata, “setelah ayat ini, tidak sepatutnya bagi hamba berlindung kepada selain Allah SWT.

B. Pengertian Keshalehan Sosial

Sosial dalam bahasa Indonesia adalah kelompok orang atau kemasyarakatan. Sedangkan dalam bahasa Arab disebut Majmu yagn artinya kelompok atau orang yang berjumlah banyak.

Jadi, keshalehan sosial adalah seseorang atau sekolompok orang yang memiliki pernagai dan kebiasaan baik yang membawa dampak positif terhadap masyarakat yang ada disekitarnya.

C. Perbuatan-perbuatan yang Termasuk Keshalehan Sosial

1. Ta’awun

Ta’awun[8] artinya sikap saling tolong menolong, Bantu-membantu dan bahu-membahu antara satu dengan yang lain. Ta’awun juga dapat diartikan sebagai sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki dan rasa saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat mewujudkan suatu pergaulan yang harmonis dan rukun.

Orang yang memiliki sikap ta’awun,tidak merasa berat membantu dan menolong orang lain yang sedang ditimpa musibah dan kesusahan. Sebab dalam jiwanya terdapat kasih sayang yagn mendalam bagi semua orang. Sikap kasih sayang itu akan selalu melekat dan merefleksi dalam kehidupannya sehari-hari. Ia juga menyadari bahwa dirinya adalah manusia biasa, sebagaimana yang lainnya, yang suatu saat tidak mustahil akan tertimpa musibah dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Kesadaran yang demikian itulah, yang dapat membentuk jiwa seseorang bersikap ta’awun dan penuh kasih sayang terhadap orang lain.

Allah SWT., berfirman:

Artinya:“Dan saling tolong-menolonglah kamu dalam hal mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam hal berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah:2)

Ayat tersebut di atas, menegaskan bahwa sikap tolong menolong harus ditanamkan dalam setiap sanubari muslim, agar dalam kehidupannya senantiasa terjadi kerukunan dan kedamaian. Sebab dengan sikap tolong-menolong tidak akan ada suatu beban yang dirasakan berat, apalagi perbuatan menolongnya itu dilakukannya dengan ikhlash dan tanpa pamrih.

Sikap tolong-menolong sangat penting bagi kehidupan manusia, apalagi ketika seseorang ditimpa musibah, sakit, kematian, kecelakaan dan sebagainya. Orang tersebut sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain. Bagi orang yang memiliki jiwa penolong, tentunya dengan senang hati ia bersedia membantu dan menolong sesuai dengan kemampuannya. Oleh sebab itu, orang yang bersikap penolong termasuk oran gyang berakhlaq terpuji, berbudi luhur dan berhati mulia. Bahkan kelak di hari kiamat akan mendapatkan kemudahan dari Allah SWT.,

Rasulullah SAW., bersabda:

Artinya:“Barang siapa membebaskan seorang mu’min dari satu kesusahan diantara kesusahan dunia, niscaya Allah SWT., membebaskannya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat.” (HR. Bukharie)

Sikap ta’awun juga merupakan sikap terpuji yang harus dipegang teguh dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaorang yang memiliki sikap ta’awun, selain mendapat pahala dari Allah SWT., juga mendapat hikmah atas perbuatannya tersebut.

2. Tasamuh

Tasamuh[9] dapat diartikan sebagai sikap toleransi, saling menghormati dan menghargai, tenggang rasa satu sama lain, sehingga dapat membentuk suatu pergaulan yang akrab dan harmonis di masyarakat. Tasamuh juga dapat diartikan sebagai sikap jiwa besar dan rendah hati dalam menerima suatu perbedaan dan keragaman, yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang memiliki sikap tasamuh, tidak akan pernah menganggap suatu perbedaan sebagai ancaman atau tantangan yang dapat membahayakan. Sebab perbedaan apapun bentuknya, baik perbedaan pendapat, keinginan, agama, suku bangsa, maupun yang lainnya, sesungguhnya adalah kekayaan dan kekuatan yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau bangsa tersebut. Sehingga keberadaannya harus dihormati dan dihargai, dan terus dicari titik samanya serta dihindari titik bedanya. Selain itu, oran gyang memilii sikap tasamuh juga termasuk oran gyang memiliki pengetahuan luas dan wawasan yang sangat luas, berpikiran maju ke depan dan berjiwa besar.

Agama Islam samangat menganjurkan ummatnya memiliki sikap tasamuh dalam kehidupannya sehari-hari, baik dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maupun dalam kehidupan rumah tangga dan keluarga sekalipun. Sehingga suasana yang rukun dan harmonis dapat tercipta dan terpelihara, demi tercapainya kebahagiaan bersama. Orang yang tidak memiliki sikap tasamuh, selain tidak dapat bergaul secara luas, juga hanya akan mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri. Sebab hilangnya sikap tasamuh, akan mendatangkan sikap angkuh dan sombong dalam diri seseorang.

Allah SWT., berfirman:

Artinya:“Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita, dan kepada Allah-lah (kita) kembali.” (QS. Asy-Syura’:15)

Ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan di dunia ini, sikap tasamuh atau toleran terhadap sesama merupakan suatu keharusan. Sebab tanpa adanya sikap tasamuh tersebut, niscaya suatu masyarakat akan dilanda malapetaka permusuhan dan perpecahan. Karena itu, Allah SWT., menghendaki hamba-Nya senantiasa bersikap tasamuh kepada siapapun, dan dari pihak atau golongan manapun, sehingga dapat menjalin pergaulan dengan rukun dan harmonis.

Sikap tasamuh atau toleran tidak hanya dalam beragama semata, dimana kita tidak boleh mengganggu gugat agama orang lain, yang berbeda agamanya dengan kita. Namun lebih dari itu, dalam hal-hal lain yang mencakup segala aspek kehidupan secara luas, seperti dalam kebebasan berpendapat, berkarya, dan sebagainya, hendaknya juga tertanam sikap toleran antara satu dengan yang lainnya. Suatu masyarakat yang individunya telah memiliki sikap toleran (tasamuh), akan terkena bahaya perpecahan dan permusuhan, melainkan sebaliknya akan terjalin suatu kekuatan bersama yang lebih kokoh dalam menghadapi ancaman dan tantangan dari luar.

Suku, bangsa, bahasa, warna kulit, ras dan sebaginya boleh berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak berarti dapat menghalangi sikap kebersamaan, persaudaraan dan toleransi antar sesame. Meskipum toleransi dalam beragama tidak dibenarkan menurut ajaran Islam, apalagi dalam hal aqidah dan ibadah, seorang muslim tidak dibenarkan bersikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Kafirun berikut ini:

Artinya:“Katakanlah (Muhammad): Hai orang-orang Kafir, aku tidak akan menyembah apa yan gkamu sembah, dan begitu pula kamu tidak menyembah apa yang aku sembah.” (QS. Al-Kafirun: 1-3)

Orang yang memiliki sikap tasamuh atau toleran adalah orang yang memiliki sikap terpuji. Selain itu, ia juga akan mendapatkan hikmah yang sangat besar dari sikap dan perilakunya tersebut.

3. Silaturrahim

Hak-hak sosial lain yang Islam wariskan dengan penekanan kepada kaum muslimin ialah menciptakan hubungan dan bergaul secara baik dengan sanak saudara dan famili, secara istilah disebut dengan silaturrahmi.[10]

Seorang mu’min mempunyai tugas dalam kesehariannya terhadap keluarganya. Ia harus menemui, bersikap ramah, dan menyayangi mereka. Ia harus mengetahui kesulitan yang dihadapi dan berusaha sekuat mungkin membantu mereka dalam menyelesaikannya. Ia bersama mereka dalam suka maupun duka, sehati dengan mereka. Kesusahan dan cobaan yang menimpa mereka adalah kesusahan dirinya.

Sikap seperti ini akan menimbulkan dampak bahwa,dalam kesulitan, mereka tidak merasa sendirian dan membuata hati mereka terhibur.

Ketahuilah bahwa segala kesulitan, rintangan, cobaan hidup, dan lain sebagainya yang kita hadapi di dunia ini, tidak terasa berat jika pada saat itu keluarga atau kerabat berusaha menolong dan ikut mengatasi problem kita. Dalam kondisi seperti ini, secara alami, yang pertama diharapkan olehnya adalah orang-orang yang dekat dengannya. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa yang paling awal dan yang paling banyak manfaatnya adalah kembali bersilaturrahmi kepada orang terdekat.

Kita ketahui bahwa setiap keluarga dan kerabat mempunyai karakter yang bermacam-macam. Sebagian memiliki kemampuan berpikir, berbadan besar dan sebagian yang lain lemah, ada yang kaya dan sebagian miskin.

Berdasarkan hal ini, maka seharusnya keberadaan mereka dijaga oleh masyarakat dan keluarga muslim karena kian hari mereka semakin besar dan semakin kukuh. Islam berpesan kepada kaum Muslimin agar jangan sampai mereka memutuskan hubungan satu sama lain.

Kini kita ketahui, bahwa silaturrahmi, bahu membahu antar keluarga dalam mengatasi problem dan kesulitan, bersama dalam duka dansuka adalah tugas kaum Muslimdan hak-hak kekeluargaan. Para pemimpin agama sangat menekankan hal ini. Kita juga harus memperhatikan bahwa mungkin saja manusia tidak mempunyai waktu untuk bersilaturrahim karena situasi yang sedang dihadapi, sehingga dengan alasan banyak pekerjaan, kemudian ia sampaikan alasan itu kepada keluarganya atau menerangkan kepada mereka berbagai alasan atau menerangkan kepada mereka berbagai alasan sehingga ia terlepas dari tugas Islamnya ini. Lalu apa yang ia miliki?

Rasulullah SAW., bersabda:

Artinya:”Tempulah jarak satu tahun dan sambunglah tali kekeluargaan.”

Maksudnya, apabila mengunjungi keluarga harus dengan melakukan perjalanan satu tahun, maka haruslah ia tempuh dalam rangka silaturrahim.

Diriwayat lain, dari Imam Shadiq as menukil bahwasannya seseorang dating kepada Nabi SAW., dan berkata, “Ya Rasulullah! Aku mempunya keluarga yang memiliki hubungan daran dan keturunan denganku, tetapi mereka menyakitiku. Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

Nabi SAW., menjawab: “Berilah orang yang menyusahkanmu, sambunglah orang yang memutuskannya.” (Ihya al-‘Ulum Bab ash-Shuhbah wa al-Mu’asyarah)

Imam Shadiq as berkata, “Sesungguhnya silaturrahim dan berbuat baik itu akan memudahkanmu di hari perhitungan dan menjagamu dari dosa. Karena itu, sambunglah tali kekeluargaan dan berbuat baiklah dengan sudara-saudaramu walaupun hanya dengan mengucapkan dan menjawab ‘salam’.”

Rasulullah SAW., bersabda, “Sambunglah tali persaudaraan walaupun dengan mengucapkan salam.”

Beliau juga bersabda, “Sambunglah tali kekeluargaan walau dengan segelas air. Silaturrahim yang paling utamaadalam mencegah gangguan dari mereka.”

Banyak lagi sebenarnya amalan-amalan yang termasuk kedalam keshalehan sosial diantaranya yaitu solidaritas, saling menghargai, Ukhuwah, musyawarah, dan masih banyak lagi yang lainnya yang mungkin akan kami bahas hal ini pada kesempatan yang lain.

D. Perbuatan dan Sikap yang Merusak Keshalehan Sosial dan Keshalehan Individual

1. Adu Domba dan Melecehkan

Adu domba adalah salah satu penyakit moral dan sifat buruk yang tercela. Dalam hubungan sosial dan pergaulan antar manusia, adu domba adalah sumber malapetaka dan kebejatan moral.Diantara sifat-sifat penyakit adu domba yang timbul berupa penilaian buruk dan rasa saling tak percaya diantara ummat manusia ialah kebencian, permusuhan dan lain sebagainya. Dalam hal ini, adu domba merupakan faktor utama timbulnya fitnah di dalam masyarakat. Dalam ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits, perbuatan mencela sangat dikecam dan para ulama menempatkannya sebagai dosa yang besar.

Menurut Syahid Tsani, seorang ulama besar di zamannya, “Adu domba ialah tindakan membuka rahasia yagn dipandang buruk oelh si pembicara atau buruk di mata orang yagn dibicarakan atau oleh setiap orang.” Oleh Karena itu, membuka rahasia dalam bentuk apapun, baik denga ucapan, tulisan, symbol atau isyarat, dihukumi adu domba dan itu buruk, apapun keadaannya.

Memfitnah dan menyulut perpecahan, mengumbar kebencian dan permusuhan antar sesama teman, kerabat dan saudara seagama dikecam keras oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Allah SWT., berfirman:

”Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqoroh:191)

“Fitnah itu lebih besar dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqoroh: 217)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencel.” (QS. Al-Humajah: 1)

“Dan janganlah kamu ikuti setiap setiap oran gyang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yagn kian kemari menghamburkan fitnah.” (QS. Al-Qalam: 10-11)

Rasulullah SAW., berkata kepada para Shahabatnya, “Maukah aku beritahukan tentang keburuka kalian.?”

“Mau Ya Rasulullah!” kata mereka.

Beliau bersabda:”Ialah orang-orang yang sibuk mengadu domba; yagn memecah belah sesama kawan; yang mencari-cari aib orang yagn bersih dari cela.” (Al-Bihar, Juz 75, bab 67, hadits ke-17)

Imam Ali as berkata, “Jauhilah adu domba, karena adu domba menanam kebencian damn menjauhkan dari Allah.” (Ghurar, Juz 2, hal. 296)

Menurut Rasulullah SAW., ”Sifat adu domba itu sangat jauh dari ruang hati seorang Muslim. Dan menjauhkan dari Allah dan manusia.” Beliau bersabda, “adu domba dan dendam itu di dalam neraka, tidak mungkin berkumpuldidalam hati seorang Mu’min.” (Kanz al Ummal, juz 16, h. 2, hadits 43767)

Maksud hadits ini, adu domba dan kebencian, sipengadu dombadan pendendam, bagi mereka adalah Jahannam! Dan sebenarnya mereka telah keluar Islam.

2. Khianat

Khianat artinya curang, yakni perbuatan tidak setia atau perbuatan ingkar atas janji yang telah diucapkan atau disepakatinya. Khianat merupakan salah satu akhlaq tercela yagn sangat merugikan orang lain. Pelakunya disebut pengkhianat. Seorang pengkhianat biasanya tidak segan-segan membuka aib atau rahasia orang lain demi keselamatan atau keuntungan pribadi.

Orang yagn memiliki sikap dan perilaku khianat, biasanya pandai berpura-puradan menyamar untuk mengelabui sasarannya. Ketika berada di suatu golongan yang dibencinya, ia berpura-puran mengatakan senang dan turut berjuang bersama-sama golongan tersebut. Padahal di balik semua itu, ia bermaksud untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan golongan yagn dimaksud, untuk kemudian di jual kepihak yang membutuhkannya.

Sikap perilaku pengkhianat lebih berbahaya disbanding musuh yang terang-terangan. Oleh sebabitu, pengkhianat disebut juga musuh dalam selimut Karena perbuatannya tersembunyi di balik kepura-puraannya. Oleh karena itu, setiap Muslim dilarang melakukan perbuatan khianat.

Allah SWT., berfirman:

Artinya:”Hai orang-orang yagn beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mngetahui.” (QS.Al-Anfal: 27)

Adapun yang termasuk perbuatan khianat ialah sebagai berikut:

a. Mengingkari janji yang telah diucapkan atau disepakatinya;

b. Tidak melaksanakan tugas yang diembankan atau diberikan kepadanya;

c. Tidak menyampaikan titipan atau pesan yang diterimanya kepada orang yang berhak menerimanya;

d. Membuka dan membeberkan aib dan rahasia orang atau pihak lain untuk kepentingan peribadinya;

e. Bersikap berpura-pura baik dalam satu jama’ah atau kelompok, padahal ada maksud jahat di balik itu semua.

f. Dan lain-lain

3. Materialistik

Materialistik artinya cinta dunia atau harta benda (hubbud dunya). Orang yang memiliki sikap perilaku materialistik, hidupnya selalu ditujukan untuk meraih dan mendapatkan harta bendaduniawi sebanyak-banyaknya. Hamper tidak ada celah waktu dan ruang hidupnya, yagn lepas dari kegiatan mencari dan mengumpulkan harta benda.

Lebih dari itu, orang yang bersikap materialistik juga tidak rela harta bendabya itu di dermakan kepada yang lain. Sebab baginyamengumpulkan harta benda itu merupakan kesenangan yang harus dipenuhi. Jadi, jika ada sedikit saja hartanya yang hilang maka ia akan merasa kehilangan hartanya itu semua. Orang yang demikian itu, menganggap bahwa kehidupan dubia ini akan abadi dengan banyak harta benda , dan orang yang tidak berharta akan binasa.

Agama Islam mengingatkan kita agar tidak bersikap materialistik, sikap yagn terlalu berlebihan mencintai dunia dan harta benda. Akibatnya dapat melupakan hakikat hidup manusia yang sesungguhnya, yakni mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT., dalam surat At-Takasur Allah SWT., menjelaskan dengan tegas.

Allah SWT Berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu).” (QS. At-Takasur)

Adapun yang termasuk perilaku materialistik antara lain sebagai berikut.

a. Senang mengumpulkan harta dan enggan membelanjakan di jalan Allah;

b. Senang bermegah-megahan dalam kesehariannya;

c. Senang membangga-banggakan harta kekayaannya kepada orang lain.;

d. Bakhil atau kikir atas harta yang dimilikinya;

e. Merasa takut kehilangan harta , walaupun hanya sedikit;

f. Menganggap rendah dan hina oran gyang tidak punya harta.

E. Kesimpulan dan Penutup.

Segala sesuatu itu mendatangkan kebaikan dan sangat berpengaruh terhadap lingkungan yang ada disekitar kita. Pada dasarnya semua peribadatan dan amalan baik itu ibadah maupun mu’amalah semua memiliki dampak terhadap individu maupun masyarakat yang ada di sekitar di mana individu itu berada.

Demikianlah makalah kami, kami yakin makalah ini sangatlah jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami tunggu kritikkan yang membangun hadir dihadapan kami. Kami ucapkan terimakasih.


[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas.

[2] Aqidah Akhlaq 2, Drs. A. Wahid Sy, M. Ag

[3] Etika Islam, Tim Akhlaq hal. 61-69

[4] Etika dalam Islam, Syed Ameer Ali hal. 62

[5] Akidah Akhlaq 2, Departemen Agama RI hal. 181-182

[6] http://van.9f.com/tawakal.htm, Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji

[7] Akidah Akhlaq, Departemen Agama RI hal. 181-160

[8] Akidah Akhlaq 2, Departemen Agama RI hal. 61-62

[9] Akidah Akhlaq 2, Departemen Agama RI hal. 59-60

[10] Etika Islam, Tim Akhlaq hal.37-43

Tidak ada komentar: